3 September 2020

Penggunaan Kata "Anjay" Rerancam Dipidanakan, Apakah Lebay?.

| 3 September 2020


Pada masa sekarang ini, percakapan dari para remaja dan anak - anak sangat sulit untuk membendungnya. Sehingga bisa saja berdampak pada bahasa pergaulan yang buruk. Bahlkan baru - baru ini, muncul polemik kata " anjay". Baik itu di berbagai media termasuk media sosial. Bahkan karena kata itu juga melibatkan Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA). Namun terlepas dari polemik itu, Ahli Ilmu Bahasa atau Linguis Sastra Indonesia dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr. Suhandono angkat bicara. Bagi dia, makna kata adalah apa yang ada dalam pikiran ketika mendengar atau membaca suatu kata. Karena makna ada dalam pikiran. Disamping itu, makna kata yang sama juga bisa berbeda antara orang satu dengan orang yang lain, tergantung pada pengalamannya.

Kata "anjay" dapat dimaknai berbeda - beda  

Pada kata "anjay", orang dapat memaknainya dengan berbeda - beda tanggapan. Bahkan bagi mereka yang belum paham dan baru diberi penjelasan, mereka akan bisa menerima penjelasan tersebut. "Tetapi meskipun belum tahu, orang bisa mengira-ira makna kata berdasarkan pengalamannya," ujarnya seperti dikutip dari laman UGM, Selasa (1/9/2020). Menurut Suhandono, di dalam kehidupan sehari-hari bisa saja orang memplesetkan kata menjadi kata baru. Sama halnya dengan kata "anjay". Orang bisa saja menafsirkan kata tersebut sebagai plesetan kata anjing sehingga bermakna jelek apabila digunakan untuk memaki. Untuk kata anjing sendiri dalam makian memiliki makna jelek. Sebab, dalam budaya Indonesia anjing dikonotasikan seperti najis, kotor, atau rakus. Sementara dalam makian orang terkadang memplesetkan kata itu karena tidak sampai hati mengucapkan apa adanya (anjing), sehingga akan terkesan vulgar. "Sama juga makian "asem" dan "bajigur" dalam masyarakat Jawa, misalnya, maksudnya tentu bukan buah asam dan jenis minuman tertentu," imbuh ahli bahasa tersebut.

Sebaiknya jangan lagi gunakan kata "anjay" dan kata-kata lain yang bisa menimbulkan kesan buruk, dan salah paham sebaiknya dihindari. Hanya saja, jika dalam konteks dan orang yang terlibat dalam percakapan sudah saling mengenal dengan baik bisa saja kata-kata semacam itu dipergunakan. Seperti halnya dalam dunia komedi. Ada banyak kata-kata vulgar yang diucapkan. Tapi biasa saja sebab dalam konteks melawak hal yang menyimpang dari hal yang umum bisa dianggap wajar. Beberapa hari terakhir, jagad maya dihebohkan dengan pelarangan penggunaan kata "Anjay" pada sebuah kalimat. Kok, bisa? karena menurut Komnas Perlindungan Anak, kata tersebut  bermakna merendahkan martabat seseorang dan termasuk dalam kekerasan verbal yang dapat dipidanakan.


Istilah - istilah dalam bahasa pergaulan.

Ranah Twitter pun jadi ramai berkicau terkait larangan ini. Sebagian besar dari warganet mengaku heran dan tidak habis pikir dengan larangan ini. Menurut warganet, banyak hal yang lebih penting untuk diperhatikan daripada megurus penggunaan bahasa slank dalam interaksi masyarakat. Apalagi, istilah "Anjay" justru menunjukkan rasa kekaguman atau pujian terhadap suatu hal. Nah, ketimbang salah persepsi dan terburu menghakimi, berikut istilah slang yang wajib kamu ketahui.

Anjay - Anjir.

Bagi kamu yang belum tahu, anjay muncul sebagai pelesetan yang berasal dari umpatan kata "Anj*ng". Umpatan menggunakan kata tersebut dinilai terlalu kasar, sehingga sejumlah anak muda memelesetkannya dengan menggunakan kata "anjay" yang diartikan untuk menunjukkan kekaguman. Disusul dengan "Anjir" yang mengartikan rasa terkejut atau kaget.

Ambyar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ambyar adalah bercerai-berai, terpisah-pisah, tidak terkonsentrasi lagi. Kata ini semakin populer ketika Didi Kempot menelurkan lagu berjudul "Ambyar" yang membuatnya turut melejit. Sehingga sekarang kata "ambyar" kerap dikaitkan dengan patah hati atau kekecewaan terhadap rasa yang tak berbalas. Duh, kok, jadi sedih...

Bucin.

Nah, ini 'sahabatnya' "ambyar", Bela. Bucin adalah kependekan dari "budak cinta". Tak heran kalau kamu kerap mendengarnya media sosial untukmelabelilelaki atau perempuan yang tergila-gila pada pasangannya.

Gabut.

Gabut adalah kependekan dari gaji buta, yang artinya suatu gaji yang diterima oleh seseorang yang tidak melakukan sebagian atau seluruh pekerjaannya. Namun seiring tren millennial, istilah "gabut" semakin berkembang menjadi ketika seseorang sedang tidak ada kegiatan atau aktivitas, sehingga punya waktu senggang untuk melakukan hal lain.

Gercep.

Gercep merupakan akronim dari gerak cepat. Jika diartikan secara harafiah, anjuran untuk melakukan sesuatu hal lebih cepat dari biasanya. Namun, kini sudah bukan anjuran lagi, melainkan ungkapan yang ditujukan kepada seseorang, yang melakukan tindakan lebih cepat dari orang lain berdasarkan keinginannya sendiri.

Halu.

Halu adalah singkatan dari "halusinasi". Untuk istilah ini, lebih merujuk kepada seseorang yang sering berkhayal atau menginginkan sesuatu namun sulit mewujudkannya.
Mager.

Merupakan singkatan dari "malas gerak", mager kerap digunakan generasi millennial dan gen Z, untuk menunjukkan kemalasan dalam beraktivitas ketika posisi mereka sedang rebahan atau tiduran.

Mantul.

Singkatan dari mantap betul ini sudah bisa kamu terjemahkan ke dalam bahasa Inggris, lho Bela. Kalau kamu cek, maka mantul artinya "really good". Sebuah istilah yang menyatakan kepuasan atau rasa suka terhadap sesuatu yang dinilai baik atau sesuai dengan yang diharapkan.

Santuy.

Hati-hati mengucapkan ini pada orangtua, ya. Karena bisa-bisa dianggap tidak sopan, jika nadanya terkesan meremehkan. Santuy sendiri adalah sinonim dari santai. Dapat juga diartikan sebagai kondisi mental ketika seseorang mempunyai kekaleman yang tak terpengaruh oleh apapun.

Pansos.

Pansos adalah singkatan dari panjat sosial. Maksudnya, seseorang yang mencari perhatian sosial atau publik, di media sosial, demi menaikkan derajat ketenarannya.

Kepo.

Mungkin kata ini sudah cukup lama beredar, namun bagi yang belum tahu, "kepo" merujuk pada kependekan dari bahasa Inggris knowing every particular object (KEPO). Namun ada pula yang mengatakan bahwa "kepo" adalah kata dari bahasa hokkien Tionghoa Medan yang sering digunakan untuk memarahi, mengejek orang karena kurang kerjaan atau terlalu ingin tahu.

Sabi.

Kembali ke era awal 90-an, "sabi" sendiri adalah kata "bisa" yang dibalik. Pada era tersebut, ada banyak kata yang sering dibaik untuk berkomunikasi dengan bahasa slang. Misalnya, "yuk" jadi "kuy", "palsu" jadi "uslap", atau "sikat" jadi "takis". Jadi kalau ada yang bertanya, "kamu besok bisa ikut arisan, nggak?" Kamu jawab saja, "Sabi!"

Woles.

Nah, masih dari era yang sama, "woles" juga merupakan kebalikan dari "selow" atau artinya santai atau acuh. Istilah ini sering diutarakan untuk mengungkapkan lebih santai dalam menghadapi suatu masalah dan tak perlu terlalu memusingkannya.


Demikianlah artikel yang menjelaskan tentang "Anjay". Semoga melalui tulisan ini memberikan pemahaman kepada pembaca yang sedang mempelarinya. Mohon maaf jika ada kesalahan dan silahkan tinggal tanggapan maupun kritikan yang sifatnya memperbaiki untuk yang akan datang. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar