29 Juli 2020

Sejarah Hari Raya Idul Adha Beserta Kisah Ketaqwaan Nabi Ibrahim (as) Dan Ismail (as).

| 29 Juli 2020
kisah nabi ibrahim dan nabi ismail


Hari Raya Idul Adha pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah juga dikenal dengan sebuatan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin yang sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah. 

Disamping Idul Adha dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan perjalanan haji, maka ia diberi kesempatan untuk berkurban, yaitu dengan menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah SWT. Sejarah Idul Adha berkaitan dengan peristiwa kurban, yaitu ketika Nabi Ibrahim alaihi salam (as) bersedia mengorbankan putranya sendiri Ismail, untuk disembelih sebagai bentuk ketaatan beliau pada Allah Ta'ala.

Karena pentingnya peristiwa tersebut. Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an: 


رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ


Artinya: Ya Tuhan kami sesunggunnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahmu (Baitullah) yang dimuliakan. Ya Tuhan kami (sedemikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah gati sebagia manusia cenderung kepada mereka dan berizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim: 37)


Sejarah Idul Adha dengan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail.

Asal muasal kurban yang menjadi bagian dari perayaan Idul Adha, berawal dari lahirnya Nabi Ibrahim as. Pada waktu Nabi Ismail mencapai usia remaja, Nabi Ibrahim as mendapat mimpi di suatu malam. Dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim as menerima wahyu dari Allah SWT. Wahyu itu berupa perintah kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih Ismail, anaknya sendiri.

Dahulu, salah satu cara Allah menurunkan wahyu kepada Nabi yakni lewat mimpi. Perintah apapun yang diterima dalam mimpi itu harus dilaksanakan, begitu pula yang dilakukan Nabi Ibrahim as. Semula memang, Nabi Ibrahim as sempat gundah gulana lantaran ia harus menyembelih puteranya sendiri. Tapi berlandaskan rasa cinta dan taat kepada Allah, ia pun kemudian berlapang dada untuk 'mengurbankan' anaknya.

Dengan berat hati, Nabi Ibrahim mendatangi Ismail untuk menyampaikan perintah Allah bahwa ia harus menyembelih puteranya. Begitu selesai menyampaikan maksud tersebut, Nabi Ibrahim sungguh tidak menyangka bahwa Ismail justru mengamini perintah Allah dalam mimpi ayahnya itu. Tanpa merasa takut atau bahkan marah kepada ayahnya, Ismail lantas mengiyakan dan menerima perintah Allah tersebut dengan begitu ikhlas.

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!'. Ia menjawab: 'Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'." (Q.S As-Saffat ayat 102).

Ismail ikhlas untuk disembelih dengan memberi empat permintaan kepada Nabi Ibrahim. Ia berkata,

"Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu, agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah. Kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya.

"Ketiga tajamkanlah parangmu dan percepatkanlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaan dan rasa pedihku. Keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku. Berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya," demikian pesan Ismail kepada Nabi Ibrahim.

Maka kemudian, Ibrahim memeluk Ismail seraya mencium pipinya dan berkata, "Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah."


Awal Mula Kurban

Usai mendengar jawaban dari Ismail, Nabi Ibrahim pun siap untuk menyembelih putranya. Diikatnya kedua tangan dan kaki Ismail, lalu Ismail dibaringkan di atas lantai. Namun ternyata, tidak mudah bagi Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah itu. Ketika keduanya -Nabi Ibrahim dan Ismail- siap, datanglah setan yang terus menggoda mereka agar membatalkan perintah itu. Setan datang sambil berujar:

"Ibrahim, kamu orangtua macam apa, anak saja disembelih?
"Apa kata orang nanti?"
"Apa tidak malu? Tega sekali! Anak satu-satunya disembelih!"
"Coba lihat, anaknya lincah seperti itu!"
"Anaknya pintar lagi, enak dipandang, anaknya patuh seperti itu kok dipotong!"
"Tidak punya lagi nanti setelah itu, tidak punya lagi yang seperti itu! Belum tentu nanti ada lagi seperti dia."

Dengan tekad kuat, Nabi Ibrahim mematahkan godaan setan itu. Ia mengambil batu, kemudian melemparnya sambil mengatakan, 'Bismillahi Allahu Akbar!'.

Peristiwa melempar batu yang dilakukan Nabi Ibrahim itulah kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah. Kemudian, Nabi Ibrahim pun memantapkan niat untuk menyembelih Ismail, tepat pada tanggal 10 Dzulhijjah. Mereka pergi ke tanah lapang. Ismail yang ketika itu sudah diangkat menjadi Nabi, pun pasrah dan tawakal. Nabi Ibrahim as menyiapkan pedang yang sudah diasah dengan sangat tajam agar Ismail tak merasa kesakitan ketika disembelih. Ismail kemudian meminta sang Ayah menutup mata agar tidak merasa iba ataupun ragu melaksanakan perintah dari Allah SWT.

Namun saat Nabi Ibrahim mulai menyembelih anaknya, pedang tajam itu selalu terpental. Ismail kemudian berkata bahwa dirinya ingin tali pengikat yang ada di tangan dan kakinya dilepas. Hal itu dilakukan agar malaikat bisa menyaksikan ketaatannya kepada Allah SWT. Setelah itu, pedang tajam hendak digerakkan, namun tiba-tiba Allah menyeru dengan firmannya, tertuang dalam Surat As-Saffat ayat 104-107.

"Wahai Ibrahim! sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."

Ya, Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor hewan ternak yaitu domba. Ini sebagai imbalan dari Allah atas ketaatan iman Nabi Ibrahim dan Ismail. Menurut satu riwayat, disebutkan bahwa Malaikat Jibril-lah yang membawa domba serta menukarnya dengan Nabi Ismail.

Pada saat itu, dituliskan bahwa semesta beserta isinya mengucapkan takbir demi mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran yang dimiliki Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah yang berat tersebut. Kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail itulah kemudian menjadi awal mula penyembelihan hewan kurban setiap Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban, 10 Dzulhijjah.

Di Indonesia sendiri, jenis hewan kurban yang biasa disembelih pada saat Idul Adha adalah hewan ternak berkaki empat, seperti sapi, kambing, dan kerbau. Sementara, di wilayah negara Timur Tengah, hewan ternak untuk kurban berupa unta, domba, dan biri-biri.


Demikianlah artikel yang menjelaskan tentang "Sejarah Idul Adha Beserta Kisah Ketaqwaan Nabi Ibrahim (as) Dan Ismail (as)". Semoga melalui tulisan ini memberikan pemahaman kepada pembaca yang sedang mempelarinya. Mohon maaf jika ada kesalahan dan silahkan tinggal tanggapan maupun kritikan yang sifatnya memperbaiki untuk yang akan datang. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar