Home » , » Sistem Kekebalan Tubuh (Sistem Imun), Mekanisme, Macam - Macam Pertahanan Tubuh, Immune System.

Sistem Kekebalan Tubuh (Sistem Imun), Mekanisme, Macam - Macam Pertahanan Tubuh, Immune System.

Posted by berbagaireviews.com on 12 Juni 2018

Sistem Kekebalan Tubuh (Sistem Imun) - berbagaireviews.com


Pengertian Sistem Kekebalan Tubuh (Sistem Imun).

Sistem kekebalan tubuh atau disebut juga imunitas merupakan suatu kemampuan tubuh untuk melawan hampir semua jenis organisme atau toksin yang cenderung merusak jaringan dan organ tubuh. Organisme atau toksin ini merupakan protein asing yang berbeda dari protein tubuh manusia yang disebut antigen dan dapat menyebabkan penyakit. Oleh karena itu, antigen tersebut harus disingkirkan, dinetralisir dan dihancurkan. Sistem kekebalan tubuh yang berperan menjalankan tugas tersebut ialah antibodi. Antibodi merupakan suatu zat yang berasal dari protein darah jenis gama globulin dan berfungsi melawan antigen yang masuk ke dalam tubuh.

Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh merupakan suatu sistem perlindungan secara biologis yang ada di dalam tubuh manusia dengan tujuan untuk menangkal radikal bebas yang menyerang sehingga seorang individu akan terhindar dari penyakit. Apabila sistem ini dapat bekerja dengan baik, maka seseorang akan terhindar dari serangan virus ataupun bakteri, bahkan dapat mencegah dari serangan kanker.

Akan tetapi, apabila sistem ini tidak bekerja dengan baik atau dalam kondisi yang lemah, maka kekebalan tubuh individu tersebut akan mudah terserang penyakit. Hal yang ditakutkan ketika sistem ini melemah adalah dapat meingkatkan resiko terserang penyakit kanker.


Dalam upaya melawan bermacam agen-agen yang infeksius dan toksik, sistem kekebalan tubuh kita terdiri atas leukosit darah (sel darah putih) dan sel-sel jaringan yang berasal dari leukosit. Sel ini bekerja secara bersama-sama melalui dua cara untuk mencegah penyakit, yaitu :
  • merusak bakteri atau virus yang menginvasi melelui proses fagositosis,
  • membentuk antibodi dan limfosit yang tersensitisasi. Namun, dalam melakukan tugas tersebut, prinsip kerja kedua sel ialah menghacurkan atau membuat agen menjadi tidak aktif.

Mekanisme Pertahanan Tubuh.


Mekanisme Pertahanan Tubuh - berbagaireviews.com


Tubuh mempunyai dua lapisan kekebalan, yaitu kekebalan nonspesifik dan kekebalan spesifik. Bakteri, virus, dan zat asing harus melalu sistem kekebalan nonspesifik terlebih dahulu. Jika kekebalan nonspesifik tidak mampu menghancurkannya, berikutnya zat penginfeksi tersebut akan menghadapi sistem kekebalan spesifik.

1. Kekebalan Nonspesifik (Bawaan).

Sistem kekebalan bawaan dimiliki oleh seseorang sejak lahir. Kekebalan bawaan bersifat nonspesifik, artinya sistem kekebalan ini selalu bersiap untuk menghadapi infeksi apapun yang masuk ke dalam tubuh. Mekanisme kekebalan ini efektif terhadap mikroorganisme tanpa terjadinya pengalaman kontak sebelumnya dengan organisme tersebut.

Kekebalan nonspesifik ada yang bersifat eksternal, ada pula yang bersifat internal. Kekebalan eksternal disebut juga sebagai perlindungan permukaan, karena melindungi di bagian luar tubuh. Kekebalan internal lebih bersifat perlindungan seluler dan kimiawi.

a. Kekebalan Eksternal.

Kekebalan eksternal terdiri dari jaringan epitelium yang melindungi tubuh kita (kulit dan jaringan mukus) beserta sekresi yang dihasilkannya. Selain sebagai penghalang masuknya penyakit, epitelium tersebut menghasilkan zat-zat pelindung. Misalnya, hasil sekresi kulit bersifat asam sehingga beracun bagi bakeri. Air ludah (saliva) dan air mata juga dapat membunuh bakteri. Mukus (lendir) menjebak mikroorganisme sehingga tidak dapat masuk ke dalam saluran pencernaan dan pernapasan.

b. Kekebalan Internal.

Kekebalan internal akan melawan bakteri, virus, atau zat-zat asing yang mampu melewati kekebalan eksternal. Kekebalan internal berupa rangsangan kimia dan melibatkan sel-sel fagositik, sel natural killer, protein anti mikroba yang melawan zat asing yang telah masuk dalam tubuh, serta peradangan (inflamasi) dan demam.

Sel-sel fagositik yang berperan dalam kekebalan internal antara lain neutrofil, makrofag, dan eosinofil. Neutrofil akan bersifat fagositik (memakan) jika bertemu dengan materi penginfeksi di dalam jaringan. Makrofag akan berlekatan dengan polisakarida di permukaan tubuh mikroba dan kemudian menelan mikroba tersebut. Eosinofil bertugas untuk menyerang parasit yang berukuran besar, misalnya cacing.

Sel natural killer menyerang sel parasit dengan cara mengeluarkan senyawa penghancur yang disebut perforin. Sel natural killer dapat melisiskan dan membunuh sel kanker serta virus sebelum sistem kekebalan adaptif diaktifkan. Protein antimikroba meningkatkan pertahanan tubuh dengan cara menyerang mikroorganisme secara langsung maupun dengan cara menghambat reproduksi mikroorgnisme. Salah satu protein antimikroba yang penting untuk melindungi sel dari serangan virus adalah interferon.

Kekebalan internal lainnya adalah respons peradangan (inflamasi) dan demam. Peradangan dipicu oleh trauma fisik, panas yang berlebihan, infeksi bakteri, dan lain-lain. Peradangan bersifat lokal atau hanya muncul pada daerah terinfeksi sedangkan demam menyebar ke seluruh tubuh.

2. Kekebalan Spesifik (Adaptif).

Jika bakteri, virus, maupun zat asing berhasil melewati sistem kekebalan bawaan (nonspesifik), selanjutnya zat-zat asing tersebut akan dihadapi oleh sistem kekebalan adaptif. Kekebalan adaptif bersifat spesifik, artinya mekanisme pertahanannya bergantung pada pembentukan respons imun terhadap mikroorganisme tertentu yag memberi rangsangan.

Kekebalan adaptif dapat bersifat alamiah maupun buatan. Kekebalan adaptif alami pasif didapatkan oleh bayi dari ibunya dalam kandungan, sedangkan kekebalan adaptif aktif didapatkan misalnya melalui infeksi (menderita penyakit terlebih dahulu). Kekebalan adaptif buatan pasif berupa transfer antibodi dari orang lain, sedangkan kekebalan adaptif buatan aktif diperoleh melalui imunisasi. Berdasarkan sel yang terlibat dalam mekanismenya, kekebalan adaptif dibagi menjadi dua, yaitu kekebalan humoral dan kekebalan yang diperantarai sel (cell-mediated immunity).

a. Kekebalan Humoral.

Unsur yang paling berperan dalam kekebalan humoral adalah antibodi yang dihasilkan oleh sel-sel B limfosit. Antibodi ditemukan dalam humor (cairan) tubuh, misalnya darah dan cairan limfa dan berfungsi mengikat bakteri dan racun bakteri, serta menandai virus untuk dihancurkan lebih lanjut oleh sel darah putih.

b. Kekebalan yang Diperantarai Sel.

Faktor terpenting dalam kekebalan ini adalah sel-sel hidup, yaitu sel-sel T limfosit. Sel-sel ini secara aktif melawan bakteri dan virus yang ada di di dalam sel tubuh yang terinfeksi. Sel-sel ini juga dapat melawan protozoa, jamur, dan cacing parasit.

Macam - Macam Imunitas.

Berdasarkan cara mempertahankan diri terhadap penyakit, sistem pertahanan tubuh digolongkan menjadi dua meliputi:

1. Imunitas Bawaan (Non-spesifik).

Imunitas bawaan merupakan sistem pertahanan yang sudah ada di dalam tubuh. Mekanisme kerja imunitas bawaan meliputi:
Proses fagositosis bakteri dan organisme lainnya oleh leukosit
dan sel pada jaringan makrofag jaringan;
Penghancuran orgenisme yang tertelan ke dalam saluran cerna oleh asam lambung dan enzim pencernaan;

Daya tahan kulit terhadap invasi organisme

Adanya senyawa kimia tertentu dalam darah yang melekat pada organisme asing atau toksin dan kemudian menghancurkannya. Senyawa tersebut meliputi, (1) lisozim, suatu polisakarida mukolitik yang menyerang bakteri dan membuatnya larut, (2) polipeptida, yang bereaksi dengan bakteri gram positif terrtentu dan membuatnya menjadi tidak aktif, (3) dasar kompleks komplemen, suatu sistem yang terdiri dari kurang lebih 20 protein yang dapat diaktifkan melalui berbagai macam cara untuk menghancurkan bakteri, dan (4) limfosit pembunuh alami (natural killer lymphocyte), yang dapat mengenali dan menghancurkan sel-sel asing, sel-sel tumor, bahkan beberapa sel yang terinfeksi.

2. Imunitas Didapat (Spesifik).

Sistem imun didapat merupakan imunitas yang dihasilkan oleh sistem imun khusus yang membentuk antibodi dan/atau mengaktifkan limfosit yang mampu menyerang dan menghancurkan organisme spesifik atau toksin. Sistem imun ini teraktivasi apabila patogen berhasil melewati sistem pertahanan tubuh bawaan.

Imunitas didapat memiliki dua tipe dasar. Tipe-tipe dasar imunitas ini merupakan respon tubuh terhadap antigen. Tipe-tipe dasar tersebut meliputi:

a. Imunitas humoral.

Imunitas humoral disebut disebut juga imunitas sel B, karena limfosit B membentuk antibodi. Pembentukan antibodi dipicu oleh kehadiran antigen dimana prosesnya dimulai dari sel B pembelah yang akan membentuk sel B plasma dan sel B pengingat. Sel B plasma akan menghasilkan antibodi yang berfungsi mengikat antigen dimana antibodi bekerja secara spesisfik. Antigen yang terikat akan mempermudah sel makrofag untuk menangkap dan manghancurkan patogen tersebut. Berikut variasi cara antibodi menghadapi antigen.

  • Netralisasi, yaitu antibodi akan memblokir tempat-tempat dimana antigen seharusnya berikatan dengan sel inang. Selain itu, antibodi akan menetralkan bakteri beracun dengan menyelubungi bagian beracun dengan menyelubungi bagian beracunnya sehingga makrofag dapat dengan mudah memfagositnya.
  • Aglutinasi, antibodi akan membuat patogen atau antigen mengalami aglutinasi sehingga mudah difagositosis oleg makrofag.
  • Pengendapan, antibodi akan membuat antigen terlalut mengendap sehingga antigen tersebut tidak dapat bergerak dan mudah ditangkap oleh makrofag.
  • Aktivasi sistem komplemen, antibodi akan mengikat antigen yang kemudian mengaktifkan sistem komplemen untuk membentuk lubang/pori pada sel patogen.

Setelah infeksi berakhir, sel B plasma akan mati dan sel B pengingat akan bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama. Terpajannya tubuh dengan patogen pertama kali yang melibatkan serangkaian respon imun awal ini disebut sebagai respon  imunitas primer. Saat tubuh terpajan patogen yang sama untuk kedua kalinya akan direspon oleh sel B pengingat yang kemudian akan menstimulasi pembentukan sel B plasma untuk memproduksi antibodi. Respon tubuh terhadap pajanan antigen kedua kali ini disebut respon imunitas sekunder.

b. Imunitas selular atau imunitas sel T.

Sistem imunitas seluler dimodulasi oleh sel T. Pada mulanya sel T helper akan menstimulasi se T sitotoksi yang berperan dalam menyerang sel-sel asing atau jaringan tubuh yang telah terinfeksi secara langsung. Sel tersebut akan membunuh patogen dengan melekatkan diri pada permukaan antigen. Apabila infeksi sudah berhasil ditangani sel T supresor akan menghambat kegiatan sel T sitotoksik dan membatasi produksi antibodi agar tidak terjadi respon kekebalan yang berlebihan.

1. Sel yang Berperan dalam Imunitas Bawaan.

Berikut ini sel-sel yang membantu dalam menjalankan sistem imunitas bawaan dalam tubuh, diantaranya:

a. Makrofag.

Makrofag merupakan sel fagositosis yang terbentuk dari sebuah jenis sel darah yang disebut monosit putih. Makrofag mengeluarkan zat yang menarik sel darah putih lainnya ke lokasi infeksi dan juga membantu sel T mengenali antigen.

b. Neutrofil.

Neutrofil merupakan jenis yang paling umum dari sel darah putih dalam aliran darah yang mengandung butiran yang melepaskan enzim untuk membantu membunuh dan mencerna sel-sel asing. Selain itu, neutrofil juga melepaskan suatu zat yang menghasilkan serat dalam jaringan sekitarnya. Serat tersebut berguna untuk menjebak bakteri sehingga membuat bakteri sulit menyebah dan mudah dihancurkan.

c. Eosinofil.

Eosinofil normalnya mencakup 2% dari seluruh leukosit darah. Eosinofil dapaat mencerna bakteri dan juga menargetkan sel-sel asing yang terlalu besar untuk ditelan. Eosinofil mengandung butiran yang melepaskan enzim dan zat beracun lainnya ketika adanya patogen asing. Zat-zat tersebut akan membuat lubang pada sel target. Selain itu, eosinofil dapat menghancurkan sel-sel kanker dan telibat dalam upaya membantu melumpuhkan dan memmbunuh parasit. Peran eosifofil sebagai sel fagosit masih lemah dan diragukan dibanding neutrofil dan makrofag.

d. Basofil.

Basofil dalam sirkulasi darah serupa dengan sel mast, yakni jaringan besar yang terletak di sisi luar banyak kapiler darah dalam tubuh dan melepaskan heparin ke dalam darah. Selain itu, basofil juga melepaskan histamin, sejumlah kecil bradikinin dan serotonin yang merupakan mediator-mediator yang telibat dalam reaksi alergi. Oleh karena itu, ketika basofil menghadapi alergen, basofil akan merilis mediator-mediator tersebut.

e. Natural Killer Cell.

NK cell atau disebut juga sel pembunuh alami merupakan sel yang penting dalam pertahanan awal terhadap infeksi virus. NK sel berperan dalam mengenali dan menempel pada sel yang terinfeksi atau sel-sel kanker yang kemudian akan melepaskan enzim dan zat lain yang merusak membran luar sel-sel ini. Selin itu, Nk sel juga berperan dalam produksi siotkin yang mengatur beberapa fungsi sel lain, seperti sel T, sel B dan makrofag.

2. Sel yang Berperan dalam Imunitas Didapat.

Sistem imunitas didapat dalam melaksanakan fungsinya melibatkan limfosit dan antibodi. Berikut ini uraian lebih lanjut.

a.  Limfosit.

Limfosit berperan penting dalam kelangsungan hidup seseorang. Limfosit terbanyak ditemukan dalam nodus limfe dan tersebar di beberapa lokasi lain di dalam tubuh untuk menahan invasi organisme atau toksin sebelum dapat menyebar lebih luas. Limfosit terdiri dari dua jenis yaitu limfosit B dan limfosit T dan memiliki fungsi yang berbeda-beda.

1. Limfosit B

Limfosit B merupakan sel yang diproduksi dan dimatangkan di sumsum tulang yang kemudian melalui aliran darah akan menuju ke sistem limfatik. Sel B bertanggung jawab dalam menjalankan sistem imunitas humoral. Sel B terdiri atas 3 jenis yaitu, (1) sel B plasma, berfungsi memproduksi antibodi; (2) sel B pengingat, berfungsi sebagai sel memori terhadap antigen yang sudah terpajan sebelumnya dan menstimulasi sel B plasma jika terjadi infesksi kedua; dan (3) sel B pembelah, berfungsi menyeimbangkan jumlah produksi sel B plasma dan sel B pengingat dalam waktu yang cepat.

2. Limfosit T.

Limfosit T diproduksi di sumsum tulang yang kemudian akan berimigrasi ke kelenjar timus dan berdiferensiasi secara cepat untuk melawan berbagai antigen spesifik. Sel T berperan dalam menjalankan kerja sistem imunitas seluler dan juga membantu produksi sel B plasma. Sama halnya seperti limfosit B, limfosit T juga terdiri atas 3 jenis meliputi, (1) sel T helper (CD4+), berfungsi menstimulasi pembentukan klon untuk produksi sel T sitotoksik dan sel T supresor juga faktor perangsang dan pertumbuhan sel B; (2) sel T sitotoksik, merupakan sel yang menyerang patogen yang masuk ke tubuh atau sel tubuh yang terinfeksi; dan (3) sel T supresor, berfungsi menekan fungsi sel T sitotoksik dan sel T helper agar segera setelah infeksi berhasil ditangani agar tidak menyebabkan reaksi imun yang berlebihan.

b. Antibodi.

Antibodi merupakan gamma globulin yang disebut immunoglobulin yang mencakup sekitar 20% dari protein plasma. Antibodi bekerja terutama melalui dua cara untuk melindungi tubuh terhadap agen yang menginvasi yaitu dengan langsung menyerang penyebab penyakit tersebut atau mengaktifkan sistem komplemen yang kemudian dengan berbagai cara yang dimiliki akan menghancurkan penyebab penyakit tersebut. Terdapat lima golongan umum antibodi, yaitu IgM, IgG, IgA, IgD, IgE. Namun, diantaranya golongan yang sangat penting ialah IgG, IgE dan IgM.

IgG merupakan antibodi bivalen dan mencakup 75% dari seluruh antibodi pada orang normal. IgG dapat menembus dinding pembuluh darah dan plasenta sehingga berperan memberikan perlindungan terhadap bakteri, virus, dan toksin.

Imunoglobulin.


Imunoglobulin - berbagaireviews.com


IgM juga merupakan imunoglobulin yang penting, karena sebagian besar antibodi jenis inilah yang terbentuk selama respon imunitas primer. IgM dapat mengikat antigen atau patogen menjadi gumpalan ataupun mengaglutinasinya sehingga mudah difagositosis makrofag. Selain itu, IgM juga dapat memicu aktifnya protein komplemen.

IgE merupakan antibodi dengan jumlah yang sedikit tapi khususnya terlibat dalam proses alergi. Selain itu, IgE juga memicu peradangan jika cacing parasit menyerang tubuh.

Respon Kekebalan.


Respon Kekebalan sistem imun - berbagaireviews.com


Jika tubuh terpapar oleh suatu antigen, akan terjadi respons kekebalan. Perkenalan pertama dengan suatu antigen akan membangkitakn respons kekebalan primer. Jika setelah beberapa waktu, seseorang terkena antigen yang sama, maka akan muncul respons kekebalan sekunder.

1. Respon Kekebalan Primer.

Setelah antigen masuk ke dalam tubuh, antibodi tidak segera terbentuk di dalam serum darah. Masa antara pemberian antigen dan dibentuknya antibodi disebut periode laten atau periode induksi. Lama periode laten sekitar 6-7 hari. Pada periode laten, antigen disampaikan pada sel-sel imunokompeten, yaitu sel B yang menghasilkan antibodi. Pada periode ini terjaid proliferase dan diferensiasi sel B. Setelah periode laten, kemudian masuk pada periode biosintesis. Fase awal dari periode boisintesis adalah fase logaritmis yang ditandai oleh meningkatnya jumlah antibodi secara logaritmis di dalam tubuh, diikuti fase mantap, yaitu di mana kecepatan sintesis protein sama dengan kecepatan katabolismenya, dan diakhiri fase penurunan, yaitu dimana katabolismen antibodi lebih cepat daripada sintesisnya.

2. Respons Kekebalan Sekunder.

Pertemuan kedua dengan antigen yang sama yang pernah diberikan sebelumnya akan mengembalikan respons imun sekunder. Ketika antigen ini terpapar pada tubuh, antibodi yang masih ada dalam serum akan menyusut, fase ini disebut fase negatif. Antigen dan antibodi dalam serum kemudian akan membentuk kompleks antigen-antibodi. Jika dosis antigen sedikit, respons kekebalan yang kuat tidak akan terjadi. Hal tersebut mungkin karena serum antigen tersebut telah digunakan untuk membentuk kompleks antigen-antibodi. Sebaliknya, jika dosis antigen cukup banyak, sel-sel B yang tersisa akan membentuk antibodi sehingga mucullah respons sekunder.

Fungsi Sistem Kekebalan Tubuh (Sistem Imun).

Secara umum, fungsi sistem imun diantaranya meliputi:
  • Melindungi tubuh dari bibit penyakit
  • Menghancurkan substansi asing/mikroorganisme dalam tubuh
  • Menghilangkan sel mati untuk perbaikan jaringan
  • Mengenali dan menghilangkan jaringan abnormal

Perbedaan Respons Primer dan Respons Sekunder.

Pada peristiwa stimulasi respons primer, sel-sel prekursor membelah diri dan mengadakan diferensiasi menjadi sel-sel pembentuk antibodi yang memproduksi IgM dan IgG. Selama proses ini terbentuk sel-sel memori yang jumlahnya masih terbatas. Menyusul respons sekunder, sel-sel yang senditif terhadap antu=igen jumlahnya bertambah cepat sehingga sintesis antibodi meningkat.

Respons kekebalan sekunder yang muncul bersifat lebih cepat, lebih tahan lama, dan lebih efektif dariada respons sebelumnya. Hal itu disebabkan sistem kekebalan telah lebih siap terhadap antigen karena sel-sel memori bersiap melawan antigen. Sel-sel memori ini pada akhirnya akan menimbulkan memori imunologis.



Article tentang Sistem Organ pada Manusia, silahkan click  http://www.berbagaireviews.com/2018/05/sistem-organ-pada-manusia-lengkap-organ.html

Thanks for reading & sharing berbagaireviews.com

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Posting Komentar

Search

Translate

subscribe

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Arsip Blog

Follow by Email

Facebook  Twitter  Google+  RSS Feed

RSS

Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.