Home » » Selat Malaka dan Peranan Selat Malaka, Strait of Malacca

Selat Malaka dan Peranan Selat Malaka, Strait of Malacca

Posted by berbagaireviews.com on 30 April 2015

Peranan Selat Malaka.

berbagaireviews.com

Selat Malaka adalah sebuah selat yang terletak di antara Semenanjung Malaysia (Thailand, Malaysia, Singapura) dan Pulau Sumatra (Indonesia). Sejak  abad  pertama,  kawasan  laut Asia Tenggara,   khususnya  Selat  Malaka sudah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan internasional yang dapat menghubungkan negeri-negeri di Asia Timur Jauh, AsiaTenggara dan Asia Barat.

Dari segi ekonomi dan strategis, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, sama pentingnya seperti Terusan Suez atau Terusan Panama. Selat Malaka membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta menghubungkan tiga dari negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia: India, Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok. Sebanyak 50.000 kapal melintasi Selat Malaka setiap tahunnya, mengangkut antara seperlima dan seperempat perdagangan laut dunia. Sebanyak setengah dari minyak yang diangkut oleh kapal tanker melintasi selat ini; pada 2003, jumlah itu diperkirakan mencapai 11 juta barel minyak per hari, suatu jumlah yang dipastikan akan meningkat mengingat besarnya permintaan dari Tiongkok. Oleh karena lebar Selat Malaka hanya 1,5 mil laut pada titik tersempit, yaitu Selat Phillips dekat Singapura, ia merupakan salah satu dari kemacetan lalu lintas terpenting di dunia.

Peranan Selat Malaka pada abad ke 7 .

     Sebelum kedatangan bangsa barat, Nusantara telah berkembang menjadi wilayah perdagangan internasional. Pada saat itu terdapat dua jalur perniagaan internasional yang digunakan oleh para pedagang, yaitu :
  • Jalur perniagaan melalui darat atau lebih dikenal dengan “Jalur Sutra” (Silk  Road) yang dimulai dari daratan Tiongkok (Cina) melalui Asia Tengah, Turkistan hingga ke Laut Tengah. Jalur ini juga berhubungan dengan jalan-jalan yang dipergunakan oleh kafilah India. Jalur ini merupakan jalur paling  tua yang menghubungkan antara Cina dan Eropa.
  • Jalur perniagaan melalui laut yang dimulai dari Cina melalui Laut Cina  kemudian Selat Malaka, Calicut (India), lalu ke Teluk Persia melalui Syam  (Syuria) sampai ke Laut Tengah atau melalui Laut Merah sampai ke Mesir lalu  menuju Laut Tengah.
     Ada dua kerajaan utama di Nusantara yang  mempunyai andil besar dalam meramaikan perniagaan Internasional pada kurun  abad ke-7 hinga ke-15, yaitu Sriwijaya di Sumatera dan Majapahit di Jawa. Keduanya adalah kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu  kerajaan pantai yang kekuatan ekonominya bertumpu pada perdagangan  internasional. Sriwijaya berhubungan dengan jalan raya perdagangan internasional  dari Cina ke Eropa melalui Selat Malaka. Pada abad ke-7 hingga ke-13 kerajaan tersebut tumbuh dan berkembang menjadi pusat perdagangan di wilayah Indonesia Barat, terutama setelah berhasil menguasai dan mengamankan jalur perdagangan di sekitar Selat Malaka. Sriwijaya mewajibkan setiap kapal dagang yang lewat Selat Malaka untuk singgah ke pelabuhan Sriwijaya.

      Oleh karena itu, kerajaan tersebut sering dikunjungi para pedagang dari Persia, Arab, India, dan Cina untuk memperdagangkan barang-barang dari negerinya atau negeri-negeri yang dilaluinya. Barang-barang tersebut antara lain berupa tekstil, kapur barus, mutiara, kayu berharga, rempah-rempah, gading, kain katun dan sengkelat, perak, emas, sutera, pecah belah serta gula. Nusantara Sesudah Kedatangan Bangsa Barat Hingga abad ke-10 pelayaran niaga masih menempuh satu jalur yang tidak terputus-putus  dari timur ke barat atau sebaliknya. Sampai dengan abad itu belum ada pelabuhan-pelabuhan yang memiliki cukup banyak fasilitas untuk dijadikan tempat singgah dalam jalur niaga yang panjang. Sejak abad ke-10 dan ke-11 muncul kota pelabuhan yang disebut dengan “emporium”, yaitu suatu kota pelabuhan dengan fasilitas lengkap yang memudahkan para pelaut untuk memperbaiki kapal-kapalnya sekaligus melakukan transaksi perdagangan. Dalam setiap emporium biasanya terdapat pengusaha yang memiliki modal cukup besar sehingga mampu menyediakan fasilitas kredit, gudang-gudang, usaha dagang dan bahkan sewa dan jual beli kapal untuk ekspedisi dagang. Lahirnya sistem”emporia” telah memudahkan pelayaran niaga. Para pedagang tidak lagi dipaksa untuk menempuh seluruh jalur dari timur ke barat untuk memasarkan  barang dagangannya. Tetapi, dengan menempuh satu emporium saja, maka  komoditi dagangnya akan dibawa para pedagang lain menyebar ke emporiumemporium di wilayah lain. Dengan demikian sistem emporia telah menyebabkan jalur  perdagangan menjadi lebih pendek. Berbagai emporium yang muncul pada abad itu  adalah Aden dan Mocha di Laut Merah; Muskat, Bandar Abas dan Hormuz di Teluk  Persia; Kambai dan Kalikut di Laut Arab; Satgaon di Teluk Benggala; Zaiton dan Nanking di Laut Cina serta Malaka di Selat Malaka.

    Selat malaka merupakan jalur perniagaan yang ramai yang banyak dilalui kapal dagang dari berbagai negeri asia. Negeri-negeri yang ada di sepanjang perairan selat malaka, silih berganti menempati kedudukan sebagai bandar/pelabuhan yang di singgahi oeh banyak kapal yang lewat di sana untuk mengambil pembekalan dan sekaligus di manfaatkan oleh para edagang untuk berniaga dan kepentingan-kepentingan lainnya. Salah satu negeri yang terkenel di kawasan itu adalh malaka.sudah semenjak awal abad ke 15 malak di jadikan sentral perdagangan oleh para pedagang yang berasal dari berbagai negeri, baik dari barat (timur tengah dan india), maupun dari negeri cina di timur dan negeri-negeri asia tenggara. Selain itu, malaka juga di jadikan pusat penyebaran agama Islam yang di lakukan oleh para pedagang muslim yang berasal dari negeri-negeri timur tengah,india, dan negeri-negeri Asia tenggara yang peduduknya telah memeluk agama islam.

    Semua faktor tersebut menyebabkan kawasan itu menjadi sebuah target pembajakan dan kemungkinan target terorisme. Pembajakan di Selat Malaka menjadi masalah yang mendalam akhir-akhir ini, meningkat dari 25 serangan pada 1994 hingga mencapai rekor 220 pada 2000. Lebih dari 150 serangan terjadi pada 2003. Jumlah ini mencakup sekitar sepertiga dari seluruh pembajakan pada 2003. Frekuensi serangan meningkat kembali pada paroh awal 2004, dan angka total dipastikan akan melebihi rekor tahun 2000. Sebagai tanggapan dari krisis ini, angkatan laut Indonesia, Malaysia dan Singapura meningkatkan frekuensi patroli di kawasan tersebut pada Juli 2004.

    Ketakutan akan munculnya aksi terorisme berasal dari kemungkinan sebuah kapal besar dibajak dan ditenggelamkan pada titik terdangkal di Selat Malaka (kedalamannya hanya 25 m pada suatu titik) sehingga dengan efisien menghalang lajur pelayaran. Apabila aksi ini berhasil dilancarkan dengan sukses, efek yang parah akan timbul pada dunia perdagangan. Pendapat antara spesialis keamanan berbeda-beda mengenai kemungkinan terjadinya serangan terorisme.


Untuk artikel lainnya, silahkan klik  http://www.berbagaireviews.com/2015/03/sitemap.html

Thanks for reading & sharing berbagaireviews.com

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Posting Komentar

Search

Translate

subscribe

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Follow by Email

Facebook  Twitter  Google+  RSS Feed

RSS

Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.