22 Mei 2020

Chokepoint, Titik Sempit Jalur Pelayaran Strategis Dunia.

| 22 Mei 2020

Titik sempit


Dunia strategi militer, titik sempit (choke point) adalah fitur geografis di daratan seperti lembah, defile atau jembatan, atau selat yang mau tidak mau harus dilalui sebuah pasukan untuk mencapai tujuannya, biasanya dengan front yang lebih sempit sehingga mengurangi kemampuan tempur pasukan tersebut. Titik sempit dapat memungkinkan pasukan bertahan yang lebih inferior untuk mengalahkan musuh yang lebih besar apabila pihak penyerang tidak mampu memusatkan kekuatannya.


Pengertian Chokepoints

Chokepoints adalah konsep umum dalam geografi transportasi, karena merujuk pada lokasi yang membatasi kapasitas sirkulasi dan tidak dapat dengan mudah dilewati, karena sangat mudah untuk diblokir. Ini berarti bahwa setiap alternatif dari chokepoint melibatkan sebuah rute memutar atau penggunaan alternatif yang berimplikasi pada biaya keuangan dan penundaan waktu yang signifikan.


Chokepoints Kawasan Asia Pasifik.


Chokepoints Kawasan Asia Pasifik


Chokepoint bisa berupa selat atau alur pelayaran yang sempit dan padat sebagai akibat terpusatnya lalu lintas pelayaran kapal - kapal dari berbagai jalur perdagangan dunia yang biasanya berlokasi dekat dengan Hub-Port atau paling tidak berada di lintasan alur pelayaran kapal-kapal dari dan ke suatu Hub-Port. Terdapat 5 (lima) chokepoints di kawasan Asia Pasifik : 

1. Selat Malaka
2. Selat Sunda
3. Selat Lombok dan Makassar
4. Laut Cina Selatan
5. Laut Cina Timur

Chokepoints nomor 2 dan 3 harus disebut sebagai ALKI (alur laut kepulauan Indonesia). Untuk nomor 4, Laut Cina Selatan, mengacu pada area yang dikelilingi oleh pantai timur Vietnam, Kepulauan Spratly, Selat Bashi / Luzon dan pulau Hainan. Sedangkan nomor 5, Laut Cina Timur, adalah wilayah laut berbatasan dengan Taiwan, Diaoyu / Kepulauan Senkaku, Kyushu, Selat Tsushima, Cheju Island, dan pantai Timur Cina selatan Shanghai. Berbagai faktor kepentingan strategis dan ketidakstabilan kelima area ini sebagai titik konvergensi, maka semua diklasifikasikan secara kolektif sebagai "chokepoints."


Pusat Maritim Global.


Chokepoints


Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo), asosiasi konsultan tertua di Indonesia, menilai arah pembangunan Indonesia dalam poros maritim perlu direposisi menjadi poros maritim global, bukan sekadar konektivitas domestik. Nugroho Pudji Rahardjo, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Inkindo, mengatakan Indonesia bisa menjadi poros maritim dunia karena memiliki empat dari sepuluh jalur perdagangan paling strategis.

"Indonesia memiliki Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar. Empat lokasi ini berpotensi menjadi pusat kegiatan industri, perdagangan, dan maritim dunia," ujarnya dalam siaran pers yang diterima, Jumat (25 September 2015). Dia menjelaskan sebagai lokasi persimpangan dari jalur strategis perdagangan, Indonesia sangat diuntungkan. Pasalnya, globalisasi telah mengubah paradigman negara industri dari yang semula penghasil produk final menjadi penghasil produk dasar atau setengah jadi.

Perubahan itu membuat produsen mencari lokasi persimpangan untuk memfinalisasi produk-produk setengah jadi dan basis pemasaran. Menurut Nugroho, saat ini Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, yakni Selat Lombok dan Selat Makassar mulai ramai diliintasi oleh kapal-kapal generasi terbaru dengan muatan 18.000 TEUs. Dua selat itu dipilih karena Selat Malaka terbilang dangkal untuk ukuran kapal denganpanjang 300 meter-500 meter. Untuk menjadi poros maritim dunia, Inkindo menilai Indonesia perlu membangun pusat perkapalan dan industi penambah nilai serta logistik. Selain itu, Indonesia juga perlu membangun armada perkapalan yang terintegrasi, dari hulu ke hilir.

Industri yang terkait dengan kawasan wisata laut juga perlu dikembangkan secara terpadu. Untuk menyokong pengembangan tersebut, Indonesia perlu memiliki sistem kota penghubung, mulai dari kota hub internasional, hub wilayah, hub lokal, hingga yang terkecil mina politan.


Selat Terpenting Dunia.


Chokepoints


Titik sempit laut terpenting pertama kali diidentifikasi oleh John Fisher dalam tulisannya yang mendukung keberlangsungan kolonialisme Britania Raya (koloni penting di dalam kurung):
  • Selat Hormuz antara Oman dan Iran di mulut Teluk Persia
  • Selat Malaka antara Malaysia dan Indonesia
  • Terusan Bab-el-Mandeb dari Laut Arab ke Laut Merah (Yaman dan Socotra)
  • Terusan Panama dan Jalur Pipa Panama yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik (Honduras Britania)
  • Terusan Suez dan Jalur Pipa Sumed yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania (Mesir)
  • Selat Turki/Bosporus yang menghubungkan Laut Hitam (dan minyak dari Laut Kaspia) dengan Mediterania (Turki)
  • Selat Gibraltar (Spanyol, Gibraltar, dan Maroko)
  • Tanjung Horn (Chili)
  • Tanjung Harapan Baik (Afrika Selatan)



Sumber : 
  • Wikipedia
  • Jean-Paul Rodrigue, Straits, Passages and Chokepoints A Maritime Geostrategy of Petroleum Distribution, Cahiers de GĂ©ograp


Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar