Penyakit Umum pada Bayi dan Balita Beserta Cara Menyembuhkannya, Disease in Infants and Toddlers. | Berbagai Reviews

Kumpulan Artikel Pendidikan Pengetahuan dan Wawasan Dunia

Kamis, Juni 07, 2018

Penyakit Umum pada Bayi dan Balita Beserta Cara Menyembuhkannya, Disease in Infants and Toddlers.

| Kamis, Juni 07, 2018
Penyakit pada Bayi dan Balita dan cara menyembuhkannya - berbagaireviews.com


Bayi merupakan usia yang sangat rentan dalam kehidupan, karena sistem kekebalan tubuh bayi masih dalam proses perkembangan. Sebelum seorang bayi mendapatkan vaksinasi atau imunisasi, tubuhnya akan lebih sulit untuk melawan infeksi dibandingkan anak yang lebih besar.

Bayi dan balita memerlukan perawatan dokter untuk beberapa masalah kesehatan yang pada anak yang lebih besar cukup dirawat sendiri saja tanpa bantuan dokter. Jika bayi atau balita mengalami gejala berikut ini, segera hubungi dokter.

Terdapat beberapa macam penyakit pada bayi dan balita. Ada yang ringan dan ada juga yang cukup berat. Penyakit yang ringan umumnya dapat ditangani di rumah. Namun, bila sakit berlanjut, sebaiknya Anda membawa bayi ke puskesmas atau dokter terdekat. Berikut adalah beberapa macam penyakit pada balita dan bayi lengkap dengan cara pengobatannya. Langsung saja kita simak yang pertama:

1. Biang Keringat.

Biang keringat adalah kelainan kulit pada bayi yang disebabkan oleh kelenjar keringat yang tersumbat. Penyebab biang keringat adalah karena kelejar keringat pada bayi belum berfungsi secara sempurna sehingga dapat tersumbat. Gejala yang umumnya terlihat adalah bayi menjadi rewel karena merasa gatal.

Cara mengatasi biang keringat adalah dengan menaburi bedak bayi pada area yang gatal. Bedak bayi dapat menyerap keringat sehingga kulit menjadi kering. Sebelumnya keringkan tubuh bayi dengan cara mengelapnya dengan wash lap yang telah dibasahi air dingin. Setelah itu lap kembali dengan handuk kering yang lembut, barulah diberi bedak bayi. Jika bayi tetap rewel, berikan bedak khusus yang mengandung calamine dan menthol. Baju bayi yang basah karena keringat sebaiknya diganti.

Cara mencegah biang keringat adalah dengan tidak mengenakan pakaian yang tidak ketat dan pakaian harus terbuat dari katun.

2. Ruam pada Popok.

Ruam yang timbul pada balita disebabkan oleh banyak hal, sepert penyakit infeksi, alergi, eksim dan juga infeksi kulit.

Ruam popok adalah radang kulit yang biasa terjadi di daerah yang ditutupi popok. Penyebab terjadinya ruam popok adalah karena kulit terlalu sering terkena dengan air seni atau tinja yang terdapat pada popok sehingga kulit tampak kemerahan yang kadang disertai bintil-bintil.

Cara mengatasi ruam popok adalah mengeringkat pantat bayu dengan kain lembut. Kemudian olesi kulit yang terkena ruam dengan salep kulit. Hindari pemakaian sabun mandi dan bedak bayi pada area yang mengalami ruam. Hal itu justru mengakibatkan terjadinya penumpukan kotoran pada kulit. Apabila ruam popok meluas ke tempat lain dan bayi menjadi kesakitan, segera bawa ke puskesmas atau dokter.

Cara mencegah ruam popok adalah dengan menghindari penggunaan popok atau celana yang terbuat dari bahan plastik, karet, wol, nilon, atau bahan lain yang sulit menyerap cairan. Hindari mengikat popok terlalu kuat.

3. Kerak Kepala.

Kerak kepala adalah peradangan terutama di daerah kulit yang kaya kelenjar minyak atau kelenjar lemak kulit. Penyebab kerak kepala adalah karena kelenjar minyak yang ada di rambut belum berfungsi dengan baik. Ketika kulit kepala bayi terkena debu dan kotoran, maka kotoran itu akan menempel dan membentuk sisik-sisik halus. Apabila dibiarkan, sisik-sisik halus ini akan menebal dan membentuk kerak (dermatitis seboroik ringan). Kerak ini dapat mengelupas setelah terlepas dari kulit ari.

Cara mengatasi kerak kepala adalah dengan mengoleskan minyak kelapa atau baby oil di bagian kulit yang bersisik. Pijat daerah tersebut secara perlahan dan lembut. Kemudian sisir rambut bayu dengan sisir khusus bayi secara perlahan. Dapat juga menggunakan jari yang sudah memakai sarung tangan yang terbuat dari bahan lembut atau plastik elastis yang halus. Kapas yang steril juga dapat digunakan. Kemudian, cuci rambut bayi dengan menggunakan sampo khusus bayi. Hindari pemakaian air hangat supaya kulit kepala bayi tidak lembap. Jika kerak kepala tidak berhasil hilang, kulit kepala bayi dapat diberi obat yang dapat menekan produksi kelenjar minyak. Jika puncak kepala berwarna merah dan mengeluarkan cairan kuning berminyak, segera bawa bayi ke puskesmas atau dokter.

Cara mencegah kerak kepala adalah mencukur pendek rambut bayi. Lebih baik bila digunduli. Hindari memberi bedak atau talk di kepala karena justru dapat membuat kerak menjadi semakin tebal. Hindari penggunaan topi atau penutup kepala pada bayi kecuali jika memang sangat diperlukan. Jaga suhu kamar bayi supaya tetap sejuk.

4. Infeksi Jamur.

Infeksi jamur juga dapat menyerang bayi. Bahkan bayi lebih rentan terinfeksi jamur dibandingkan dengan orang dewasa. Hal itu disebabkan karena kulit bayi lebih tipis sehingga kurang kuat melindungi tubuh. Jamur yang sering menginfeksi bayi yaitu candida, dermatofita, dan Pityrosporum orbiculare.

Cara mengatasi infeksi jamur bergantung dengan gejala. Jika muncul ruam (bintil-bintil merah) pada kulit bayi, segera bawa bayi ke puskesmas atau dokter. Jika hanya terjadi ruam popok, penanganannya sama seperti cara mengatasi ruam popok. Jika infeksi jamur dibiarkan, maka dapat meluas.

Cara mencegah infeksi jamur adalah dengan menjaga agar kulit bayi selalu bersih, tidak ada keringat, dan tidak lembap. Memandikan bayi secara rutin dan berikan bedak bayi setelah mandi. Gantilah popok jika sudah basah atau kotor. Gunakan pakaian yang terbuat dari katun supaya dapat menyerap keringat dengan baik. Hindari pakaian dan kaos kaki yang terlalu ketat. Gunakan sepatu yang tidak sempit.

5. Eksim.

Eksim adalah penyakit pada bayi yang ditandai dengan kulit tampak kemerah-merahan dan terdapat gelembung kecil yang berisi air. Gelembung tersebut dapat membuat bayi gatal saat pecah akibat digaruk. Penyakit ini juga disebut kutu air.

Penyakit ini biasa disebabkan oleh alergi. Oleh karena itu, hindari bayi dari debu dan bulu binatang. Bawa bayi ke dokter terdekat untuk diberikan obat pengurang rasa gatal.

6. Muntah.

Muntah bisa disebabkan oleh infeksi seperti gastroenteritis, infeksi saluran kemih, keracunan makanan atau masalah struktural misalnya refluks atau stenosis pilorik. Muntah pada bayi terjadi karena gerak peristaltik (gerakan otot untuk membawa makanan turun ke lambung) pada kerongkongan bayi yang belum berfungsi sempurna. Penyebab muntah adalah posisi menyusui yang tidak tepat, bayi ditidurkan setelah makan, dan kekenyangan.

Cara mengatasi muntah adalah ketika bayi menunjukan tanda-tanda akan muntah, bayi diberdirikan atau ditelungkupkan sambil ditepuk-tepuk punggungnya. Berikan minum setelah bayi muntah. Hindari memberinya minum saat muntahnya belum selesai karena bisa menyebabkan bayi tersedak.

Cara mencegah bayi muntah adalah dengan memiringkan 45 derajat posisi bayi saat menyusui dengan kepala lebih tinggi daripada kaki. Jangan memberikan minum atau ASI saat bayi menangis, tenangkan terlebih dahulu. Setelah menyusui, berdirikan bayi sambil ditepuk-tepuk punggungnya.

7. Kuning.

Kuning pada bayi dapat disebabkan oleh penyakit atau karena organ hati belum berfungsi sempurna. Jika bagian putih mata bayi menjadi kuning saat menyusui, berarti penyakitnya disebabkan oleh penyakit. Segeralah bawa ke dokter apabila kuning pada bayi disebabkan oleh penyakit. Cara mencegah kuning pada bayi adalah dengan menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi.

8. Kembung.

Kembung adalah penyakit yang disebabkan karena bayi terlalu banyak menelan angin saat menyedot botol dot sehingga perutnya menjadi kembung. Gejala kembung adalah perut sedikti membesar, bayi menangis keras karena sakit perut, dan sering buang angin.

Cara mengatasi kembung adalah mengoleskan minyak telon ke perutnya. Namun jika disertai demam sebaiknya bayi dibawa ke puskesmas atau dokter. Cara mencegah perut kembung adalah dengan mengenakan pakaian hangat pada bayi supaya tidak masuk angin.

9. Demam.

Demam adalah gejala suatu penyakit seperti batuk, pilek, radang tenggorokan, diare, dan infeksi saluran pencernaan. Cara menangani demam adalah memberinya cairan dan gizi yang cukup, beri bayi istirahat, dan mengompres bayi dengan air hangat. Segera bawa ke dokter jika demam tak kunjung turun.

Pada umumnya demam merupakan pertanda terjadinya infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Usaha pertama yang dilakukan jika bayi demam tinggi adalah memberinya obat penurun demam, karena demam yang terlalu tinggi bisa menyebabkan kejang.

10. Kejang (konvulsi).

Balita yang kejang adalah suatu kondisi menakutkan bagi orangtua. Namun, jika kejang terjadi akibat demam tinggi biasanya jarang berbahaya. Penyebab lain dari balita yang kejang adalah epilepsi dan kejang hari kelima, yaitu kejang tanpa ada alasan yang khusus pada bayi yang baru lahir dalam keadaan sehat.

Kejang adalah penyakit yang ditandai dengan kontraksi otot yang berlebihan akibat demam tinggi. Cara mengatasi kejang sama halnya dengan cara mengatasi demam.

11. Batuk.

Penyebab yang paling umum dari kondisi ini kemungkinan selesma, atau dikenal juga sebagai infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Selain itu ada juga penyebab lainnya seperti lendir dari hidung yang mengalir ke tenggorokan, asma, bronkiolitis, batuk rejan atau pneumonia.

Batuk adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernapasan dan juga alergi. Cara mengatasi batu adalah dengan membawa bayi ke puskesmas atau dokter. Hindari memberi es, permen, atau makanan berminyak kepada bayi. Sebaiknya Anda menggunakan masker supaya tidak tertular.

12. Pilek.

Pilek adalah penyakit yang umum diderita balita. Hal ini dikarenakan sistem imun tubuh bayi masih lemah. Balita umumnya terkena pilek enam sampai delapan kali per tahun atau dua bulan sekali. Penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya. Balita harus banyak istirahat dan beri banyak minum. Berikanlah asupan gizi yang baik untuk menjaga daya tahan tubuh.

13. Diare.

Diare adalah penyakit yang ditandai dengan frekuensi buang air besarnya yang semakin sering dan feses mencair. Diare umumnya disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, alergi susu, dan infeksi lainnya. Gejala diare disebabkan oleh makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, bermain dengan mainan yang sudah terkontaminasi, tidak memasak air sampai matang, kebiasaan memasukan tangan ke dalam mulut, tidak mencuci tangan bayi dengan bersih setelah buang air, dan pencucian botol susu yang kurang bersih. Cara mengatasi diare adalah dengan memberinya oralit dan sup.

Balita yang mengalami diare umumnya memiliki kotoran yang encer dan berair. Diare ini bisa disebabkan oleh gastroenteritis, alergi atau tidak bisa menoleransi suatu makanan. Pada bayi di bawah usia 3 tahun (batita) terkadang diare disebabkan oleh sistem pencernaan yang belum sempurna.

14. Kurang Gizi.

Penyakit ini disebabkan karena bayi kekurangan gizi yang diperlukan terutama protein. Cara menangani kurang gizi adalah dengan memberikan gizi yang seimbang kepada bayi. Jika tidak mampu membeli susu, ganti dengan telur.

15. Sakit perut.

Terdapat berbagai hal yang bisa memicu sakit perut pada balita, salah satu penyebab yang paling umum adalah sembelit (konstipasi) atau susah buang air besar. Sakit perut yang dialami juga bisa disebabkan oleh gastroenteritis dan juga rasa cemas berlebihan yang dialami si kecil. Jika sakit perutnya tergolong parah, maka segera konsultasikan ke dokter.

 16. Menangis berlebihan.

Penyebab medis yang bisa menyebabkan bayi menangis berlebihan adalah kondisi yang mengakibatkan sakit perut, nyeri pada tulang atau adanya infeksi tulang. Secara umum bayi yang sakit cenderung akan diam dan tidak rewel.

17. Sakit telinga.

Kondisi ini biasanya disebabkan oleh adanya infeksi pada telinga bagian tengah dan luar. Pada umumnya balita yang mengalami sakit telinga akan sering kali menarik-narik telinganya.

 18. Sulit bernapas.

Gangguan ini umumnya terjadi pada bayi karena saluran udara yang dimilikinya masih kecil. Namun ada juga beberapa kondisi yang bisa menyebabkan bayi sulit bernapas, sepert asma, bronkiolitis atau pneumonia.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar